Konsepsi Ittiba’


1. Pengertian I’tiba

Ittiba’ adalah mashdar (kata bentukan) dari kata ittaba’a (mengikuti). Dikatakan mengikuti sesuatu jika berjalan mengikuti jejaknya dan mengiringinya. Dan kata ini berkisar pada makna menyusul, mencari, mengikuti, meneladani dan mencontoh. Dikatakan ittiba’ kepada al-Qur’an, yaitu mengikutinya dan mengamalkan kandungannya. Dan ittiba’ kepada Rasululloh  n, yaitu meneladani, mencontoh dan mengikuti jejak beliau n.[1]

Secara istilah Ittiba’ adalah mengikuti satu pendapat dari seorang ulama dengan didasari pengetahuan dalil yang dipakai oleh ulama tersebut. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah memberikan penjelasan yang menukil dari perkataan Abu Dawud : “Aku mendengar Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan : Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya radliyallaahu ‘anhum”. [2]

Konsep I’tiba inilah yang tercermin dari perkataan seorang ulama yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I yang berkata:

“Kaum muslimin telah bersepakat bahwa barangsiapa yang telah mendapatkan kejelasan baginya tentang Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena pendapat seseorang”.[3]

2. Kedudukan I’tiba dalam Islam

Ittiba’ kepada Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan merupakan salah satu pintu seseorang dapat masuk Islam. Berikut ini adalah beberapa kedudukan penting ittiba’ dalam agama Islam, di antaranya adalah:

a. Ittiba’ kepada Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam adalah salah satu syarat diterima amal. Ittiba’ dijadikan oleh Allah k dan Rasul-Nya sebagai salah satu syarat diterimanya suatu amalan ibadah. Sedangkan syarat diterimanya ibadah sebagaimana yang disepakati oleh para ulama ada dua:

  • Mengikhlaskan niat ibadah hanya untuk Allah semata.
  • Harus mengikuti dan serupa dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam.

Maka barangsiapa mengerjakan suatu amal dengan didasari ikhlas karana Allah semata dan serupa dengan sunnah Rasulullah, niscaya amal itu akan diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi kalau hilang salah satu dari dua syarat tersebut, maka amal itu akan tertolak dan tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Hal inilah yang sering luput dari pengetahuan banyak orang. Mereka hanya memperhatikan satu sisi saja dan tidak memperdulikan yang lainnya. Oleh karena itu sering kita dengar mereka mengucapkan: “yang penting niatnya, kalau niatnya baik, maka amalnya baik.” Hal yang demikian merupakan pemahaman yang keliru.

Ittiba’ merupakan bukti kebenaran cinta seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman:

Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat ini dengan ucapannya: “Ayat yang mulia ini sebagai hakim bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah, akan tetapi tidak mengikuti sunnah Muhammad sallallahu `alaihi wa sallam. Karana orang yang seperti ini bererti dusta dalam pengakuan cintanya kepada Allah sampai dia ittiba’ kepada syari’at agama Nabi
Muhammad sallallahu `alaihi wa sallam dalam segala ucapan dan tidak tanduknya.”[4]

b. Ittiba’ adalah sifat yang utama wali-wali Allah

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Furqan Baina Auliair Rahman wa Auliyai Syaithan hal. 28-47 menjelaskan panjang lebar perbedaan antara waliyullah dan wali syaitan, diantaranya beliau menjelaskan tentang wali Allah dengan ucapannya: “Tidak boleh dikatakan wali Allah kecuali orang yang beriman kepada Rasulullah dan syari’at yang dibawanya serta ittiba’ kepadanya baik lahir maupun batin. Barangsiapa mengaku cinta kepada Allah dan mengaku sebagai wali Allah, tetapi dia tidak ittiba’ kepada Rasul-Nya, bererti dia berdusta. Bahkan kalau dia menentang Rasul-Nya, dia termasuk musuh Allah dan sebagai wali syaitan.”

Kemudian beliau (dan juga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam risalahnya Al-Ushulu as-Sittah) berdalil dengan firman Allah surat Ali Imran ayat 31 dalam perkara yang telah tersebut di atas.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi dalam Syarah Aqidah Ath-Thahawiyyah, hal. 496 berkata: “Pada hakikatnya yang dinamakan karamah itu adalah kemampuan untuk senantiasa istiqamah di atas al-haq, kerana Allah tidak memuliakan hamba-Nya dengan suatu karamah yang lebih besar dari taufiq-Nya yang diberikan kepada hamba itu untuk senantiasa menyerupai apa yang dicintai dan diredhai-Nya yaitu istiqamah di dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya dan ber-wala kepada wali-wali Allah serta bara’ dari musuh-musuh-Nya.” Mereka itulah wali-wali Allah sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yunus: 62)

Demikianlah beberapa kedudukan ittiba’ yang tinggi dalam syari’ah Islam dan masih banyak lagi kedudukan yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ittiba’ kepada Rasulullah sallallahu `alaihi wa sallam merupakan suatu amal yang teramat besar dan banyak mendapat rintangan. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang ittiba’ kepada Nabi-Nya dalam segala aspek kehidupan kita, sehingga kita akan bertemu Allah dengan membawa husnul khatimah. Amien.

Daftar Pustaka

http://adesuryaonline.blogspot.com/

http://pustakasunnah.wordpress.com/

http://ekonomisyariat.com/

http://hidayahnet.tripod.com/

http://ittiba.com/

Footnote


[1] Lihat Lisanul ‘Arab (1/416-417), al-Mu’jamul Wasith (1/81)

[2] I’lamul-Muwaqqi’in 2/139

[3] Al-Fulani halaman 68

[4] Ibnu Katsir, 1/358

About Priana Saputra

Perkenalkan Saya "Priana Saputra". Terimakasih saya ucapkan bagi sobat sekalian yang berkenan mampir ke blog sederhana ini. Harapannya, semoga apa yang saya posting dapat memberikan manfaat bagi siapapun. Jika ada yang ditanyakan atau masukkan yang sekiranya membangun, jangan sungkan untuk di sampaikan baik lewat kotak komentar maupun via FB saya. Terimakaih...
Gallery | This entry was posted in Manhaj and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s