MEMILIH PASANGAN HIDUP


Allah Maha Kuasa telah menciptakan makhluk hidup dan alam semesta ini berpasang-pasangan. Ada siang ada malam. Ada pria, ada wanita dan seterusnya. Begitu juga pasangan hidup kita; Allah telah menyediakannya. Dalam Ar Rum: 21, Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia (Allah) menciptakan untukmu istri-istri dai menismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya di antramu rasa kasih sayang…”

Untuk mewujudkan keluarga yang shalih maka harus dimulai dari memilih pasangan hidup yang shalih/shalihah. Dan untuk mendapatkan pasangan hidup (suami/istrimu) yang shalih maka harus dimulai dari diri kita sendiri.

Umumnya ada empat kriteria yang digunakan untuk memilih pasangan hidup, yaitu: kecantikan/ketampanan, kakayaan, keturunan/kedudukan, dan agama. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah dalam haditsnya:

“Wanita diperistri karena empat hal: kekayaanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka utamakanlah dalam hal agamanya, niscaya beruntunglah kamu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada tiga hal utama yang perlu dijelaskan dari hadis di atas, yaitu:

Pertama, dalam hadis tersebut terkandung kriterian dalam memilih calon istri; tapi berlaku juga dalam memilih calin suami, karena wanita juga berhak untuk memilih dan menentukan (menerima tidaknya) calon pasangan hidupnya.

Kedua, sungguh pun dalam hadis tersebut agama menempati urutan terakhir (keempat) namun bukan berarti bahwa faktor agama merupakan hal yang bisa diabaikan; justru menunjukkan pentingnya faktor agama dalam penentuan calon pasangan hidup; dan

 Ketiga, walaupun pasangan hidup atau jodoh itu sudah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih dalam kandungan ibu, namun kita harus berusaha mencari dan mendapatkannya; dan yang terbaik menurut ajaran Rasulullah adalah yang paling baik agamanya (shalih/shalihah)

Dalam hadis lain hal itu lebih ditandaskan:

“Barangsiapa yang memperistri wanita karena (kekayaannya) hartanya, tidak akan menambanya kecuali kefakiran. Dan barang siapa memperistri wanita karena kemegahannya/kedudukannya, tidaklah akan menambanya kecuali kehinaan”

 

Juga dalam hadis lainnya Rasulullah bersabda:

”Janganlah engkau mengawini wanita karena kecantikannya barangkali kecantikannya itu akan merusakannya. Dan janganlah pula engkau mengawini karena harta-bendanya, barangkali harga bendanya itu akan menyebabkan dia aniaya. Aka tetapi kawinilah mereka karena agamanya” (HR. Ibnu Majah).

Sehubungan dengan itu ada beberapa hal yang seharusnya diperhatikan dalam memilih calon pasangan hidup, yaitu:

  1. Utamakahlah faktor agama (kesalihan), maksudnya pilihlah calon pasangan hidup yang –paling- utama di antara faktor-faktor lain yang sifatnya lahiriah dan duniawiah karena itu kelak akan lebih menguntungkan dan membahagiakan kita.
  2. Perhatikan kesehatan jasmani dan rohani (mental dan akalnya) juga kualitas bawaannya (bobot, bibit, dan bebetnya) karena semua itu akan mempengaruhi kualitas anak/keturunan kita kelak.
  3. Dianjurkan adanya kesetaraan (kufu) dalam hal usia, pendidikan, tingkat sosial, dan kegemarannnya. Maksudnya upayakahlah yang setingkat dalam hal-hal tersebut; kalaupun ada perbedaan hendaklah jangan terlalu jauh. Ini penting agar terjalin keharmonisan dalam hidup sehari-hari.
  4. Usahakanlah yang saling mencintai; maksudnya orang yang kita cintai, dan dia pun mencintai kita. Mengapa hal itu perlu? Karena perjalanan hidup rumah-tangga yang akan ditempuh adalah dalamjangka waktu yang lama; dan itu perlu ada rasa saling pengertian, keterbukaan serta cinta kasih.
  5. Usahakanlah mendapat restu dari orang tua dedua belah pihak, karena Rasulullah bersabda, “Keridlaan Allah bergantung kepada keridlaan kedua orangtua, dan kemurkaan Allah bergantung kepada kemurkaan kedua orangtua pula.”

Selain kelima hal tersebut di atas, perlu juga kita senantiasa berdo’a kepada Allah SWT. agar kita diberikan pasangan hidup yang terbaik. Diantara do’a yang bisa kita panjatkan adalah:

“Ya Allah, Tuhan kami, karuniakahlah kepada kami istri-istri dan anak keturunan yang menjadi cahaya mata (shalih) dan jadikahlah kami sebagai pemimpin (penuntun) bagi orang-orang yang takwa” (QS. Al Furqan: 74).

About Priana Saputra

Perkenalkan Saya "Priana Saputra". Terimakasih saya ucapkan bagi sobat sekalian yang berkenan mampir ke blog sederhana ini. Harapannya, semoga apa yang saya posting dapat memberikan manfaat bagi siapapun. Jika ada yang ditanyakan atau masukkan yang sekiranya membangun, jangan sungkan untuk di sampaikan baik lewat kotak komentar maupun via FB saya. Terimakaih...
Gallery | This entry was posted in Fiqih and tagged . Bookmark the permalink.

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s