Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua


kewajiban anak terhadap orang tua

keajiban anak terhadap orang tua

Permasalaha-permasalahan antara orang tua dan anak sering kita saksikan baik dalam banyak cerita orang-orang terdahulu maupun pada masa yang serba modern seperti ini. Banyak orang tua yang tak peduli terhadap anak-anaknya hingga menelantarkan mereka. Dilain pihak banyak anak yang membangkang kepada orang tuanya hingga menjadi anak yang durhaka. Pada postingan ini akan dijelaskan tentang “Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua“. Semoga bermanfaat.

Supaya terjadi keseimbangan dan keharmonisan dalam keluarga; berikut ini akan dijelaskan beberapa hal tentang kewajiban-kewajiban seorang anak terhadap orangtuanya, yaitu:

Diantara Kewajiban anak terhadap orang tua nya

 1. Seorang Anak Wajib Menaati Perintah Orangtua

Kewajiban anak terhadap orang tua nya yang pertama adalah menaati keaduanya. Hal ini sebagaimana Firman Alloh Ta’ala yang artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jadi salah seorang di antara kecuanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. Al Israa: 23).

 “Menaati Allah adalah menaati orangtua, dan mendurhakai Allah adalah mendurhakai orangtua” (HR. Thabrani)

Ayat dan hadis di atas merupakan perintah untuk menghormati dan menaati perintah orangtua. Bila orangtua membir perintah maka kita harus berusha untuk melaksanakan sebaik mungkin. Apabila tak bisa atau tak mampu untuk melaksanakannya, bicaralah serta jelaskanlah dengan cara yang baik. Tak boleh kita berkata yang keras atau kasar. Jangankan begitu, berkata “ah” pun (sebagai kata penolakan) tidak diperbolehkan.

Hanya ada satu perintah yang boleh ditolak, yaitu apabila perintah itu bertentangan dengan ajaran agama (Islam) misalnya memerintah menyembah selain Allah, berbuat dosa atau kemaksiatan. Perintah seperti itu boleh (malah wajib) ditolak, namun tetap harus dengan cara yang baik dan bijaksana. Jelaskanlah bahwa perintah itu bertentangan dengan jaran Islam, dan bisa dilaksanakan akan berdosa, tidak hanya yang mengerjakannya tapi juga yang memerintahkannya.

2. Menghormati dan Berbuat Baik Terhadap Orang tua

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) baik kepada orangtua” (QS. Al Ankabut:

Pengertian berbuat baik terhadap orangtua di sini artinya sangat luas. Beberapa contoh perilaku berbuat baik terhadap orang tua diantaranya:

  1. Berkata dan  bertutur kata yang sopan, lemah lembut serta menyenangkan hati orang tua kita. Jangan sampai berkata yang keras, kasar, dan menyakitkan hati orang tua, karena kalau orang tua sampai sakit hati kemudian dia mengadu dan berdo’a kepada Allah, maka do’anya akan langsung dikabulkan oleh Allah Ta’ala.
  2. Merendahkan diri apabila berhadapan dengan orang tua. Mangan menatap tajam, apalagi sampai melotot. Apabila orang tua sedang duduk dibawah maka kita pun ikut duduk dibawah jangan duduk di kursi apalagi sambil berdiri. Sikap tangan harus ke bawah, bukan hanya kepada orang lain dan atasan, maka kepada orang tua pun harus senantiasa bersikap sopan.
  3. Berterima kasih dan bersyukur atas kebaikan orang tua karena mereka sudah sangat berjasa terhadap kita; dari sejak kita masih dalam kandungan sampai dewasa dan berkeluarga seperti sekarang (Bagi yang telah berkeluarga: Pr). Sungguh sangat besar jasa dan pengorbanan kedua orang tua kita. Kita tak akan dapat membalasnya sampai akhir hayat sekalipun.

Itulah diantara cara seroang anak berbuat baik terhadap orang tua nya..!

3. Mendahulukan dan Memenuhi Kebutuhan Orang tua

Kewajiban anak terhadap orang tuanya yang ke 3 adalah hendaknya seroang anak senantiasa mendahulukan dan memenuhi kebutuhan orang tua nya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa Abdullah bin Amr bin Ash ra. Mengisahkan: Ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah SAW. lalu berkata, “Aku akan berbaiat kepadamu untuk hijrah dan jihad demi mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala”. Rasulullah bertanya, “Apakah salah seorang dari kedua orang tua mu masih hidup?” Orang itu menjawab “Ya, keduanya masih hidup”. Beliau tertanya lagi, “apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?” Orang itu menjawab “Ya”. Rasulullah bersabda “Kembalilah kepada kedua orang tua mu, layani mereka dengan baik”.

Hadis tersebut memberi pelajaran untuk mendahulukan dan mengutamakan untuk memenuhi kebutuhan serta pelayanan kepada orang tua. Bahkan dari hadis tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa melayani orang tua itu hampir sama derajatnya dengan berjuang (berjihad) di jalan Alloh Ta’ala. Berbahagialah anak yang bisa memenuhi kebutuhan orang tuan ya dan melayaninya dengan baik.

4. Minta Izin dan Do’a Restu Orang tua

 “Keridlaan Tuhan bergantung (kepada) kerelaan orangtua dan kemurkaan Tuhan bergantung (kepada) kemurkaan orangtua”.

Melalui perjalanan panjang kisah hidup manusia sudah banyak terbukti bahwa seorang anak hidup berbahagia karena orang tuanya senang dan ridla kepadanya. Begitu juga sudah banyak berbukti siorang anak hidupnya celaka dan sengsara karena ornagtuanya murka serta melaknatnya.

Begitu besar peran keridlaan dan do’a orang tua ini, bahkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ad Dailami’, Rasulullah SAW. pernah bersabda. “Do’a orang tua bagi anaknya seperti do’a seorang nabi bagi umatnya”. Maksudnya do’a orang tua itu sangat mustajab dan cepat dikabulkan oleh Allah SWT. seperti halnya do’a para nabi dan Rasul.

Sehubungan dengan itu ada beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh anak terhadapt orang tua nya:

  1. Bila ada suatu keperluan, biasakanlah untuk meminta izin kepada orang tua. Apabila orang tua mengizinkan laksanakanlah, namun apabila tidak mengizinkan dan keperluan itu bisa ditunda, maka tundalah untuk sementara waktu. Hal ini terutama bagi anak yang masih tinggal dengan orang tua nya.
  2. Apabila ada tugas, berangkat ke sekolah, kuliah, bekerja atau tugas ke luar daerah/ke luar negeri; biasakanlah meminta izin serta do’a restu dari orang tua; karena hal itu akan membawa berkah, misalnya akan berhasil atau mendapat lebih banyak keuntungan .
  3. Sikap ketia meminta izin atau do’a restu haruslah dengan cara yang lemah-lembut, sopan, bijaksna supaya orangtua memberi izin dan doa restu dengan tulus ikhlas.

5.  Membantu Tugas dan Pekerjaan Orangtua

Anak haruslah selalu berupaya agar bisa membantu dan meringankan tugas/kewajiban orang tua, bukannya malah menambah berat dan membuat semakin susah mereka. Bantulah mereka sesuai dengan kemampuan, misalnya dengan tenaga, pikiran maupun materi.

Beberapa contoh yang bisa kita lakukan misalnya:

  1. Apabila anak lelaki bantulah ayah untuk membereskan atau memperbaiki rumah, berkebun, memprbaiki peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya.
  2. Apabila anak perempuan bantulah ibu dengan cara menyapu, mengepel, mencuci, memasak, dan sebagainya. Buka usaha atau toko, bantulah orang tua semampunya seperti membawakan barang, menunggui tempat usaha atau toko, dan sebagainya.
  3. Bantulah orang tua dengan senang hati dan ikhlas agar tak menjadi beban ketika mengerjakannya serta mendapat pahala dari Allah SWT.

6.  Kewajiban Anak Selalu Menjaga Nama Baik dan Amanat Orang tua

“Sesungguhnya sebesar-besar dosa ialah memaki ayah ibunya sendiri” Ada yang bertanya kepada beliau, “Bagaimanakah seorang memaki ayah ibunya?” Rasulullah SAW. menjawab, “(yaitu dengan) memaki ayah orang lain lalu di balas (oleh orang lain itu) dimaki pula ayahnya atau ibunya dimaki dibalas pula dimaki ibunya”.

 Hadis di atas menjelaskan keharusan kita menjaga nama baik orang tua. Beberapa usaha yang dapat dilakukan dalam hal ini adalah:

  1. Panggilah orang tua dengan “ayah” dan “ibu” atau yang semakna dengan itu. Jangan memangil orang tua dengan namanya langsung, hal tersebut sangat terlarang.
  2. Jangan memaki nama atau perilaku orang tua orang lain, karena dikhawatirkan mereka akan membalas memaki nama dan perilaku orang tua kita. Bila hal itu terjadi berdosalah kita.
  3. Jagalah ucapan dan perilaku kita agar tetap sopan dan santun, karena baik tidaknya perilaku kita akan membawa nama orang tua dan keluarga kita.
  4. Termasuk pula dalam menjaga nama baik orang tua adalah menjaga serta melaksanakan amanatnya, asalkan amanatnya itu sejalan dengan ajaran Islam.
  5. Termasuk dalam menjaga amanat orag tua adalah menjaga dan melaksanakan semua nasihat serta petunjuk (yang sesuai dengan syariat Islam) juga menjaga serta melaksanakan ajaran Islam dengan benar dan tekun).

 7.  Kewajiban Anak adalah Senantiasa Mendoakan Orang tua

Mendo’akan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal adalah kewajiban anak yang harus senantiasa dilaksanakan; karena apabila sampai ditinggalkaan maka terputuslah rizkinya.

Rasulullah bersabda:

“Bila seorang hamba (manusia) sudah meninggalkan berdo’a bagi kedua orang tuanya maka sungguh akan terputuslah rizkinya” (HR. Ad Dailami).

Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang memerintahkan kita untuk mendo’akan orang tua kita, satu di antaranya adalah yang tercantum di atas. Mengapa kita wajib mendo’akan orang tua? Karena begitu banyak dan besar jasa orang tua terhadap kita, maka sudah selayaknya apabila kita selalu mendo’akan mereka.

Apa saja yang harus kita do’akan untuk orang tua, misalnya mohon diampuni dosa-dosanya dan diterima semua amal ibadahnya, mohon diberi kekuatan iman dan Islam, kekuatan dan kesehatan jasmani serta rohani, dan masih banyak lagi sesuai keadaan dan kebutuhan, asalkan do’anya adalah yang baik-baik karena itu merupakan salah satu kewajiban anak terhadap orang tua nya.

Ada banyak contoh do’a untuk orang tua, di antaranya:

“Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan ibu-bapakku serta orang-orang yang beriman pada hri perhitungan amal (hisab)” (QS. Ibrahim: 41).

 “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan ibu-bapakku, dan kasihanilah kedaunya sebagaimana kedaunya mengasuh (mengasihi) aku diwaktu kecil” (HR. Tirmidzi).

 Bagaimana orang tua yang sudah meninggal bisa kita do’akan:

“Ya Allah, ampunilah dia, dankasihanilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah kesalahannya, hormatilah kedatangannya dan luaskanlah tempat tinggalnya” (HR. Muslim).

8.  Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua adalah Mengurus mereka sampai Meninggal

Anak bayi sampai dewasa atau menikah adalah kewajiban orang tua untuk mengurusnya, namun setelah anak dewasa adalah kewajiban anak untuk mengurus orang tuanya.

Pengertian mengurus di sini adalah memberi tempat tinggal serta memenuhi semua kebutuhan orang tuanya; misalnya makan, minum, pakaian, memberi hiburan, mengurus ketika sakit, dan sebagainya. Apabila anaknya tunggal maka anak tunggalnya itulah yang berkewajiban mengurus orang tuanya. Namun apabila anaknya lebih dari satu maka kewajiban mengurus orangtua ditanggung secara bersama.

Hal utama dalam mengurus orang tua adalah dengan di urus sendiri oleh anak-anaknya secara langsung. Adalah hal yang tidak etis apabila setelah berusi lanjut orang tua dititipkan ke panti jompo. Betapa hancur dan merananya hati orang tua apabila menglami hal seperti itu bagaimana apabila anda mengalami sendiri.

Rasulullah bersabda:

“Celakalah seseorang, kemudian celakalah, kemudian celakalah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya berada pada usia lanjut, tapi tiak masuk syurga” (HR. Muslim).

Betapa Rasulullah sangat menekankan hal ini, beliau sampai berkata tiga kali. Maksud dari hadis tersebut adalah jika anak tidak lagi mau menyantuni kedua orangtuanya yang berada pada usi lanjut, maka berarti ia tidak suka masuk syurga. Dengan kata lain anak yang ingin masuk syurga adalah anak yang berusaha tetap dan teru berbakti kepada orang tua nya pada usia lanjut sampai wafat.

9. Memenuhi Janji dan Kewajiban Orangtua

Setiap janji haruslah ditepati, dan setiap kewajiban haruslah dilakukan. Ketika orang tua sudah tak mampu memenuhi janji dan kewajibannya, misalnya karena sudah uzur (tua) atau meninggal, maka sudah menjadi kewajiban anaklah untuk bisa memenuhinya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatan oleh Abu Daud dijelaskan ada yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah SAW. apakah aku masih (harus) berbuat baik kepada kedua orangtua setelah kedua-duanya meninggal dunia?” Rasulullah menjawab, Ya, empat hal (yang harus dilakukan) yaitu mendo’akan dan memohon ampun bagi keduanya, memenuhi janji-janjinya, menghormati sahabat-sahabatnya, serta bersilaturahmi terhadap orang yang tidak menyambung silaturahmi kepadamu selainmelalui kedua-duanya. Itulah di antara yang masih bisa kamu lakukan sebagai kebaikan terhadap kedua orangtua setelah mereka meninggal dunia”

Lingkup janji dan kewajiban di sini tentulah dalam pengertian yang sesuai dan dibenarkan oleh syariat Islam. Adapun janji dan kewajiban yang tidak sesuai dengan syariat Islam tidak usah atau malah jangan (haram) untuk dipenuhi. Hal itu di antarnya berdasarkan sabda Rasulullah:

“Ketaatan itu hanyalah pada hal-hal yang baik (ma’ruf), dan tidaklah diperbolehkan menaati mahluk dalam hal maksiat kepada Allah”

 Diantaranya janji dan kewajiban yang harus segera dipenuhi adalah membayar hutang-piutang terhadap saudara atau orang lain atau pihak lain (berupa lembaga misalnya koperasi atau bank) kecuali yang sudah direlakan oleh orang/pihak lain tersebut. Rasulullah mengingatkan:

“Jiwa seorang mu’min tergantung pada hutangnya, sampai hutangnya tersebut dapat dilunasi” (HR. Ahmad).

Contoh lain janji dan kewajiban yang harus dipenuhi adalah melaksanakan janji atau amanat yang telah di sampaikan, baik secara isan maupun tulisan; kepada kita sebagai anaknya maupun kepada orang lain (disertai bukti), misalnya menghibahkan atau mewakafkan tanah/bangunan untuk keperluan umum seperti madrasah, masjid atau ruang serba guna.

Dengan dipenuhi janji dan kewajiban orangtua oleh anak-anaknya maka akan meringankan beban mereka di alam kubur/akhirat, menambah amal ibadah mereka serta membawa keberkahan bagi harta atau rizqi yang dimiliki oleh anak-anaknya.

10.  Meneruskan Silaturahmi dengan Saudara dan Teman-teman serta Sahabat Orang tua

Hubungan kekeluargaan dan silaturahmi dengan saudara, kerabat, teman-teman serta sahabat orangtua haruslah tetap dijaga dan dijalin oleh anak-anaknya. Jangan sampai hubungan silaturahmi itu terputus setelah orangtua meninggal.

Dalam hadis pertama pada sub bab 7.9 (memenuhi janji dan kewajiban orangtua) di atas sudah dijelaskan bahwa di antara kewajiban yang harus dilakukan oleh anak terhadap orangtuanya yang sudah meninggal adalah menghormati sahabat-sahabatnya serta bersilaturahmi terhadap orang yang tidak menyambung silaturahmi kepada anaknya selain kepada/melalui orangtuanya.

Pada hadis lain yang senada dengan hadis di atas adalah dijelaskan bahwa ada orang yang bertanya kepada Rasulullah, “Kedua orangtua saya sudah meninggal, apakah ada jalan (cara/peluang) untuk berbakti kepada keduanya walaupun sudah meninggal?” Rasulullah menjawab, “Ya, bacaan  istigfar (mohon) ampun untuk keduanya, dan melaksanakan wasiat keduanya, serta menghormati sahabat-sahabatnya dan menghubungi (bersilaturahmi) kepada famili (kerabat/sanak saudara) dari keduanya.”

Demikian beberapa kewajiban yang harus dilakukan oleh anak terhadap kedua orangtuanya. Semoga dapat melaksanakannya dengan baik dan ikhlas, sehingga kta menjadi anak yang shalih. Amien. (Pr: Mohon maaf jika masih ada beberapa ketika yang salah, masih sebagian saya edit, terimakasih telah berkunjung)

Sumber: Fiqih Pendidikan karya Drs. Heri Jauhari Muchtar

Baca juga lebih banyak artikel tentang berbaktikepada orang tua di situs: Berbaktikepadaorangtua.com

hadiah untuk ibu dan ayah tercinta

Buku yang disarankan (klik pada gambar untuk lebih lengkap):

 

 

Hiduplah Seperti Air Mengalir: Makna Berbagai Jenis Air dalam Islam

Hiduplah Seperti Air Mengalir: Makna Berbagai Jenis Air dalam Islam

 

 

Menjadi Muslim Milyarder Modal Iman

Menjadi Muslim Milyarder Modal Iman

 

Membentuk Kecerdasan Spritual Anak

Membentuk Kecerdasan Spritual Anak

 

 

About Priana Saputra

Perkenalkan Saya "Priana Saputra". Terimakasih saya ucapkan bagi sobat sekalian yang berkenan mampir ke blog sederhana ini. Harapannya, semoga apa yang saya posting dapat memberikan manfaat bagi siapapun. Jika ada yang ditanyakan atau masukkan yang sekiranya membangun, jangan sungkan untuk di sampaikan baik lewat kotak komentar maupun via FB saya. Terimakaih...
Gallery | This entry was posted in Adab, Akhlak, Fiqih and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua

  1. pras says:

    Gak ada keadilan terhadap seorang anak…….orang tua selalu merasa benar gara2 terlalu menonjolkan hadist durhaka terhadap orang tua……

    • priana13 says:

      Afwan ya Akhi, tidak pantas rasanya terlontar ucapan seperti itu dari seorang anak terhadap orang tua yang telah memberikan jasa yang tak mungkin dapat dihitung. Jika orang tua selalu merasa benar, maka harus dilihat apakah yang mereka anggap benar itu sesuai dengan syariat atau bertentangan. Jika itu termasuk perintah syari’at kita wajib mentaatinya, dan jika sebaliknya maka kita wajib meninggalkannya. terkadang kita terlalau berlebihan memandang satu kekeliruan orang tua akan tetapi kita malah melupakan seribu kebaikan yang mereka berikan.

      semoga kita senantiasa di berikan hidayah dan kelapangan oleh Allah Subhanahuwata’ala.

  2. Pingback: Kisah Teladan Berbakti Kepada Orang Tua | Belajar dr Orang Pendiam Brng Priana Saputra

  3. Diah Ayu S says:

    Good, tapi penuLisannya mohon Lebih di perhatikan. Masih banyak yang salah🙂

    • Oh iya, Terimakasih masukkannya. InsyaAlloh jika sempat saya edit ulang. Dulu waktu posting, hasil ketik ulang dari buku. Mungkin blum sempat dikoreksi. Mba Diah, Terimakasih Telah berkunjung.

  4. Pingback: Kewajiban Anak Terhadap Orang Tuanya « Berbakti Kepada Orang Tua

  5. Pingback: Cara Berbakti Kepada Orang Tua | Priana Saputra

  6. yudistirawati says:

    bgmn jk org tua mnyuruh kt utk meninggalkn suami kt,dgn alasan suami kt bkn org yg baik dn krg iman…apakah kt hrs mnta’atix…org tua jg sering mngucap bhw klo kt trus hdp dgn suami itu mk kt akan mnjdi gelandangan…sikap apa yg hrs kt ambil….

  7. Pical says:

    ass, saya mau bertanya apakah batasan perintah orang tua setelah anak nya menikah?
    dan apakah semua perintah orang tua harus dipatuhi setelah menikah, dalam arti perintah baik dan perintah kurang baik..mohon balsan nya

  8. hamzah says:

    …Dan bagi orang-orang yang tidak mampu berpuasa, hendaklah mereka membayar fidyah memberi makan orang miskin… (QS. Al-Baqarah: 184)
    Membayar fidyah memang ditetapkan berdasarkan jumlah hari yang ditinggalkan untuk berpuasa. Setiap satu hari seseorang meninggalkan puasa, maka dia wajib membayar fidyah kepada satu orang fakir miskin. Siapa Saja yang Harus Bayar Fidyah? Salah satunya adalah Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa. Bagaimana mekanisme, membayarkan fidyah Orang tua atau lemah yang sudah tidak kuat lagi berpuasa. ? Tks

  9. Tio says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb. mohon pecerahannya. bagaiman ketika orang tua terlilit hutang, dan anaknya sudah berusaha semaksimal mungkin membantu untuk membayar hutang-hutang itu, sampai anak2nya pun ikut terlilit hutang yang tidak sedikit krna untuk membantu mengecilkan hutang tersebut harus pinjam dari bank, koperasi kantor dan teman-temannya, dan mendapatkan kesulitan juga untuk membayar hutang-hutang pinjaman tersebut karena penghasilan sudah tidak memadai lagi untuk membayar hutang tersebut, sehingga tagihan2an dari orang2 yang terkait memberi pinjaman sering terjadi bahkan bisa berbentuk teror, sampai urusan rumah tangga anaknya pun terganggung dan hubungan dengan pasangan hidup anaknya pun menjadi kurang harmonis, semua ini dilakukan untuk membantu melonggarkan hutang2 orang tua , meskipun sudah disampaikan bahwa sudah tidak sanggup lagi untuk menyelesaikan hutang orang tuanya, namun orang tua tetap meminta bantuan untuk melunasi hutang tersebut, tanpa menghiraukan kesulitann anakanya, bahkan di tekan dengan perkataan-perkataan apabila minta bantuan dan tidak bisa terpenuhi, mengatakan hutang ini timbul karna menyekolahkan anak2, anak tidak tau terimakasih, tidak peduli, pembohong dll. dilematis memang karena di satu sisi anak2 berkeinginan besar untuk melepaskan hutang orang tua nya, di satu sisi tidak berdaya dengan keuangan, bahkan hutang pun sudah melilit anak2nya.
    PERTANYAANNYA :
    1. Bagimana kah sikap yang terbaik yang harus diambil oleh anak2 tersebut untuk menyikapi hutang orang tuanya ?
    2. Apakah berdosa ketika berhenti sementara dalam membantu orang tua yang sedang kesulitan itu dan fokus terlebih dahulu untuk menyelesaikan urusan utang anak2 tersebut, dan juga untuk memeperbaiki kondisi rumah tangganya?

    Terimakasih
    Wassalam.

  10. no say says:

    trims 4 you

  11. assalamualikum. saya ingin bertanya apa hukum larangan orang tua terhadap anak perempuannya yang ingin berbuka puasa bersama teman temannya? sebelumnya,tolong dijawab terimaksih..

Tulis Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s